Polyvagal Theory dan regulasi sistem saraf semakin memperjelas kondisi mental mu!

Banyak orang merasa diri mereka malas, padahal bisa jadi mereka sedang mengalami Dorsal Vagal Shutdown. Ini adalah kondisi di mana tubuh dan pikiran terasa mati rasa, tidak ada motivasi, dan muncul rasa putus asa yang mendalam.
Memahami Respons Stres: Flight, Fight, dan Freeze
Sebelum mencapai tahap ini, biasanya kita melewati beberapa mode respons stres:
Flight Mode – Kamu sibuk terus, tapi hasilnya nihil. Selalu mencari distraksi atau mengejar kesempurnaan agar tidak terlihat gagal. Contohnya, kamu terus-menerus bekerja, mencari proyek baru, atau mengalihkan perhatian dengan scrolling media sosial, tetapi tetap merasa kosong dan tidak puas.
Fight Mode – Kamu mudah marah, merasa harus berjuang keras, dan sulit beristirahat tanpa merasa bersalah. Kamu mungkin merasa harus selalu produktif dan tidak bisa diam tanpa merasa ada sesuatu yang salah.
Freeze Mode – Kamu merasa stuck, tidak punya energi, selalu menunda keputusan, dan muncul pikiran "buat apa sih?". Ini sering terjadi ketika kamu sudah terlalu lelah dan otak memutuskan untuk berhenti mencoba.
Sering kali, mode Fight or Flight (yang dikendalikan oleh Sistem Saraf Simpatik) dianggap sebagai tanda motivasi. Padahal, jika terus-menerus berada dalam kondisi ini, stres akan menumpuk. Ketika stres mencapai puncaknya, tubuh akhirnya menyerah dan masuk ke Dorsal Vagal Shutdown. Di titik ini, kamu kehilangan semangat, merasa tidak ada gunanya berusaha, dan benar-benar terjebak.
Kenapa Ini Terjadi?
Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan tanpa kesempatan untuk pulih, sistem sarafnya mulai melihat dunia sebagai tempat yang tidak aman. Ini membuat tubuh masuk ke mode bertahan hidup, bukan berkembang. Alih-alih mencari solusi atau terus berusaha, tubuh memutuskan untuk menyerah sebagai mekanisme perlindungan.
Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai hal, seperti:
Beban kerja yang terlalu berat tanpa waktu istirahat
Harapan yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri
Trauma masa lalu yang belum terselesaikan
Rasa takut akan kegagalan yang terus-menerus menghantui
Perspektif Ilmiah: Teori Polyvagal
Konsep Dorsal Vagal Shutdown berasal dari Polyvagal Theory yang dikembangkan oleh Dr. Stephen Porges. Teori ini menjelaskan bagaimana sistem saraf otonom manusia memiliki tiga tingkatan respons terhadap stres:
Ventral Vagal State (Keamanan dan Koneksi) – Saat seseorang merasa aman, sistem saraf parasimpatis aktif, memungkinkan relasi sosial yang sehat, kreativitas, dan motivasi.
Sympathetic State (Fight or Flight) – Ketika ada ancaman, sistem saraf simpatik mengambil alih, memicu respons perlawanan atau pelarian.
Dorsal Vagal State (Shutdown dan Pembekuan) – Jika ancaman terlalu besar dan berkepanjangan, tubuh beralih ke mode shutdown untuk menghemat energi, yang menyebabkan mati rasa dan depresi.
Menurut penelitian dalam bidang psikofisiologi, Dorsal Vagal Shutdown sering terjadi pada individu yang mengalami trauma atau stres kronis. Studi menunjukkan bahwa individu dengan tingkat variabilitas denyut jantung (HRV) yang lebih tinggi, indikator dari keseimbangan sistem saraf otonom lebih mampu beradaptasi terhadap stres dan keluar dari mode shutdown dengan lebih cepat.
Bagaimana Cara Keluar dari Dorsal Vagal Shutdown?
Solusinya bukan dengan memaksa diri untuk bekerja lebih keras, melainkan dengan mengajarkan sistem saraf bahwa pertumbuhan dan perubahan itu aman. Beberapa cara yang bisa membantu adalah:
Praktikkan Keamanan dalam Tubuh – Beri tahu tubuhmu bahwa kamu aman dengan melakukan pernapasan dalam, meditasi, atau aktivitas yang menenangkan seperti yoga.
Mulai dengan Langkah Kecil – Jangan memaksakan diri untuk langsung produktif. Mulailah dengan tugas-tugas kecil yang bisa memberikan rasa pencapaian.
Hubungi Orang yang Dipercaya – Interaksi sosial bisa membantu sistem saraf merasa lebih aman. Bicarakan perasaanmu dengan teman atau terapis.
Berikan Ruang untuk Istirahat Tanpa Rasa Bersalah – Belajar untuk istirahat dengan penuh kesadaran tanpa merasa harus selalu produktif.
Pahami dan Terima Emosimu – Jangan menekan perasaan negatif. Alih-alih, coba terima dan pahami bahwa semua emosi memiliki fungsi.
Latih Variabilitas Denyut Jantung (HRV) – Teknik seperti coherent breathing (pernapasan 5-6 detik masuk dan keluar) dapat meningkatkan keseimbangan sistem saraf dan membantu keluar dari mode shutdown.
Kesimpulan
Kamu tidak stuck karena gagal, tapi karena tubuhmu belum merasa aman untuk berkembang. Saat sistem sarafmu kembali tenang, motivasi dan energi akan muncul dengan sendirinya. Memahami bagaimana tubuh dan pikiran bekerja akan membantumu keluar dari siklus stres yang melelahkan.
Studi tentang Polyvagal Theory dan regulasi sistem saraf semakin memperjelas bahwa kesejahteraan psikologis kita sangat bergantung pada persepsi tubuh terhadap rasa aman. Dengan memahami cara kerja sistem saraf, kita bisa berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai membangun keseimbangan yang sehat antara kerja keras dan pemulihan.
Jika ingin belajar lebih dalam, coba cari tentang Polyvagal Theory. Ini bukan sekadar teori, tapi kunci memahami bagaimana kita bisa keluar dari kebuntuan psikologis. Kamu tidak malas, kamu hanya butuh rasa aman untuk bertumbuh.
Comments
Post a Comment